Loader Icon
live aman bg

Workaholic: Arti, Penyebab, Ciri, Dampak & Cara Mengatasi

Workaholic: Arti, Penyebab, Ciri, Dampak & Cara Mengatasi
  • 30 Mei 2023
  • Redaksi Liveaman
  • 3 Mins

Apakah kamu pernah melihat seseorang yang sangat tekun dalam bekerja seperti kecanduan? Jika iya, workaholic adalah istilah untuk kondisi seperti ini.

Hampir mirip dengan sosok pekerja keras, ciri-ciri workaholic biasanya menjadikan pekerjaannya sebagai prioritas utama atau bisa disebut juga “gila kerja”.

Jangan anggap sepele, hal tersebut bisa jadi salah satu gejala impostor syndrome  dan menimbulkan dampak negatif yang kerap tidak disadari, lho.

Lalu, bagaimanakah cara mengatasi kebiasaan workaholic? Artikel berikut telah merangkum penjelasan lengkapnya. Simak baik-baik!

Apa itu Workaholic

Menurut Mechlowitz, melalui salah satu bukunya yang menjelaskan hal ini, arti workaholic adalah suatu gambaran atas individu seseorang, di mana ingin terus bekerja keras selama mungkin dan bersifat ekspresif.

Sementara itu, melansir dari American Psychology Association, workaholic adalah suatu kondisi yang dialami seseorang saat ingin memaksakan atau memiliki kebutuhan dari diri sendiri untuk terus bekerja.

Dalam hal ini, kondisi tersebut merupakan suatu peristiwa yang tidak dapat dikendalikan. Artinya, keinginan untuk terus bekerja bukan karena faktor dari luar, melainkan diciptakan oleh individu itu sendiri.

Penyebab Workaholic 

Well, karena workaholic adalah keadaan yang diciptakan oleh diri sendiri, hal ini bisa disebabkan karena beberapa kondisi, di antaranya yaitu:

1. Merasa Tidak Layak Memiliki Pekerjaan 

Seperti yang telah disinggung sebelumnya, workaholic adalah suatu kondisi di mana dapat menimbulkan gejala seseorang terkena sindrom impostor.

Yup, mereka akan cenderung merasa bahwa dirinya tidak pantas mendapatkan segala kesuksesan atau pekerjaan yang telah dimiliki.

Maka dari itu, mereka akan merasa gelisah secara berlebihan sehingga terus-menerus bekerja dengan tujuan untuk melindungi kariernya.

2. Menganggap Hebat Menjadi Workaholic 

Perlu diketahui, ketika seseorang melakukan suatu hal yang berbahaya, secara tidak sadar mereka akan merasa dirinya hebat karena berhasil menjalaninya, tak terkecuali pada workaholic.

Yap, seorang workaholic akan merasa bahwa semakin lama waktu dihabiskan untuk bekerja, maka bertambah hebat pula dirinya.

3. Terbiasa Mendapatkan Tuntutan Pekerjaan 

Apakah kamu pernah mengalami kondisi di mana terlalu sering  mendapatkan beban kerja sampai terbiasa mengerjakannya hingga larut malam tanpa istirahat?

Well, hal ini dapat menjadi salah satu penyebab workaholic, lho. Apalagi saat kamu sering merasa cemas jika tidak segera menyelesaikannya.

Padahal, tidak ada salahnya untuk beristirahat terlebih dahulu sebelum melanjutkan pekerjaan.

Dalam hal ini, coba manfaatkan weekend sebagai waktu rehat tanpa mengerjakan tugas apapun dari kantor.

Baca juga: Manajemen Stress Kerja, Ini Manfaat Dan Cara Melakukannya!

Ciri-Ciri Workaholic

Setelah mengetahui definisi dan penyebabnya, mungkin kamu bertanya-tanya sebenarnya apa perbedaan workaholic dengan pekerja keras?

Well, perbedaan workaholic dan pekerja keras dapat dilihat dari aktivitas yang dikerjakan keduanya.

Workaholic adalah mereka yang akan bekerja selama berjam-jam secara berlebihan, bahkan sampai menggunakan waktu liburnya saat weekend.

Bedanya dengan pekerja keras adalah mereka tidak berlebihan dalam bekerja. Misalnya, tetap mengerjakan tugas sesuai deadline, namun tak sampai melupakan teman, keluarga, hingga kesehatannya sendiri.

Adapun tanda-tanda seseorang mengalami workaholic adalah:

  • Merasa terobsesi untuk bekerja lebih lama.
  • Terus menyibukkan diri tanpa ada peningkatan produktivitas.
  • Meskipun hasil kerjanya sudah baik, mereka tidak pernah merasa puas.
  • Mempunyai masalah pribadi dengan teman, keluarga, atau bahkan pasangan karena terlalu sibuk dalam pekerjaan.
  • Menghiraukan saran dari orang-orang terdekat untuk mengurangi bekerja.
  • Menjadikan bekerja sebagai tempat pelarian untuk menghindari masalah.
  • Kesehatan semakin menurun sampai menjadi stres, namun merasa tertekan jika tidak bekerja.
  • Merasa bahwa bekerja dapat mengurangi stres, kecemasan, perasaan bersalah, hingga putus asa yang dialaminya.

Dampak Menjadi Workaholic

Untuk mengurangi risiko bekerja secara berlebihan, kamu perlu memperhatikan beberapa dampak negatif workaholic berikut ini, antara lain yaitu:

  • Workaholic adalah keadaan yang dapat membuat hubunganmu dengan kerabat di sekitar memburuk.
  • Menurunkan produktivitas, karena ciri-ciri workaholic adalah mereka yang cenderung mengorbankan waktu istirahatnya.
  • Risiko mengalami gangguan kesehatan mental semakin tinggi, seperti stres atau depresi.
  • Meningkatkan tekanan darah, jika terlalu sering mengonsumsi kafein untuk mengurangi kantuk saat bekerja.
  • Merusak pola makan menjadi tidak teratur.

Baca juga: 10 Cara Mengatasi Stres Kerja Menurut Psikologi, Yuk Coba!

Tips Mengatasi Kebiasaan Workaholic 

Apabila beberapa ciri-ciri workaholic sebelumnya pernah dialami, kamu dapat melakukan sejumlah tips mengatasi kebiasaan bekerja secara berlebihan, di antaranya adalah:

1. Menciptakan Batasan dengan Diri Sendiri 

Well, karena workaholic adalah sejumlah pikiran yang diciptakan secara pribadi, maka untuk menguranginya, kamu dapat membuat batasan dengan diri sendiri.

Caranya yaitu dengan membuat agenda kapan sebaiknya waktu untuk bekerja dan beristirahat. Kemudian, pastikan bahwa kamu tidak akan mengganggu jadwal keduanya.

Selain itu, apabila mendapatkan tuntutan pekerjaan di luar tanggung jawabmu, tidak ada salahnya untuk menolak jika merasa tak sanggup mengerjakannya.

2. Menjadikan Kesehatan Sebagai Prioritas 

Kemudian, kunci mengurangi kebiasaan workaholic adalah dengan menanamkan mindset bahwa kesehatanmu jauh lebih penting dibandingkan bekerja secara berlebihan.

Dengan demikian, melalui kesadaran yang sudah tertanam dari dalam diri, kamu bisa mulai menerapkan gaya hidup sehat, seperti berolahraga, hingga mengonsumsi buah dan sayuran.

3. Kurangi Rasa Bersalah 

Salah satu ciri-ciri workaholic adalah merasa bersalah dan tidak puas akan hasil yang didapatkan saat menyelesaikan pekerjaan.

Nah, untuk menguranginya, kamu dapat memberikan pemahaman kepada diri sendiri bahwa kecemasan seperti rasa bersalah itu merupakan perasaan yang muncul hanya sementara.

Selain itu, kamu juga dapat memberikan waktu istirahat kepada tubuh tanpa harus merasa bersalah jika tidak menyelesaikan pekerjaan dengan cepat.

4. Atur Manajemen Waktu 

Dengan memiliki manajemen waktu baik dan teratur, kamu bisa menentukan tugas-tugas yang perlu diprioritaskan.

Selain itu, kamu juga dapat mengurangi pekerjaan yang sekiranya tidak perlu dilakukan, atau kurang memiliki dampak positif bagi diri sendiri untuk ke depannya.

5. Coba Diskusikan dengan Atasan 

Terakhir, tips mengurangi kebiasaan workaholic adalah dengan mendiskusikan kepada atasan mengenai segala hal yang kamu alami.

Yap, jika atasanmu bisa dipercaya, ia akan memberikan solusi terbaik bagi para karyawannya agar bisa bekerja dengan lebih efisien, tanpa mengganggu kinerja mereka.

Itulah penjelasan mengenai apa itu workaholic, mulai dari penyebab, ciri-ciri, dampak, hingga tips mengurangi kebiasaannya.

Pada intinya, workaholic adalah suatu kebiasaan buruk yang perlu dihindari oleh para karyawan, meskipun dengan tujuan ingin menyelesaikan pekerjaan dengan cepat.

Well, karena dampak negatif workaholic tidak hanya dirasakan melalui kesehatan saja, tapi juga dapat merusak hubunganmu dengan orang-orang di sekitar.

Untuk itu, jika kamu adalah seorang atasan yang tidak ingin para karyawan menjadi workaholic, tidak ada salahnya lho, untuk menyediakan fasilitas kesehatan kepada mereka.

Nah, dalam hal ini, Aman bisa menjadi solusi untuk kamu!

Aman adalah one-stop employee benefits platform yang dapat membantu HR dan perusahaan dalam membangun ekosistem kerja menjadi lebih sehat.

Bagaimana mungkin? Yup, dengan mendaftarkan perusahaanmu menjadi bagian dari AmaZens, para karyawan kamu bisa mendapatkan layanan kesehatan melebihi asuransi.

Seperti AmanCheck, layanan check-up kesehatan dan diagnosis bagi setiap karyawan, AmanTelecare untuk konsultasi dengan dokter spesialis, hingga AmanMind, fasilitas kesehatan mental.

Jadi, tunggu apalagi? Yuk, daftarkan perusahaanmu dengan menghubungi tim kami melalui website Aman Care atau kontak langsung dari official WhatsApp sekarang juga!

Baca juga: Apa Pentingnya Safety Induction? Ini Contohnya Di Perusahaan

×  
Hubungi Kami
Nama*
Nomor Telepon*
Email Kerja* (Mohon jangan pakai email umum/pribadi seperti gmail, yahoo, hotmail, dll)
Nama Perusahaan*
Email konfirmasi telah dikirimkan. Silakan menunggu kabar kami dalam 24 jam.
Verifikasi
Kami telah mengirim OTP ke email kamu. Silahkan diverifikasi.
Ubah Email Kerja
Mohon masukkan kode verifikasi (OTP) disini*
Belum terima kode verifikasi?120
Kami telah mengirim OTP ke email kamu. Silahkan diverifikasi.
Harap masukkan OTP yang benar